← Back to portfolio

Blocking Itu Bukan Solusi, Tapi Polusi (Ide)

Tengah malam ini, ketika artikel ini ditulis, saya sedang muak dengan materi Ujian Akuntansi di perkuliahan saya.

Saya makin muak mendengar kabar barusan saja bahwa situs micro-blogging Tumblr akan diblokir oleh pemerintah. Terlebih setelah diblokirnya Reddit dan Vimeo beberapa waktu lalu.

Sesaat saya teringat dengan sejenis proverb

“You may love your country, but never to the government.”

Baru-baru ini, keinginan terindah saya untuk menonton Krysten Ritter secara “legal” hampir saja terjadi. Namun, seketika gagal melihatnya sebagai Jessica Jones kembali. Ataupun gagal mencoba kembali menengok Pablo Escobar secara “legal” bertransaksi, dalam series Narcos. Hal ini sirna karena suatu hal yang cukup menggelikan. Belum sempat berlangganan, tertiba..

Netflix diblokir.

Netflix, yang masih seumuran jagung eksistensinya di Indonesia, memang sama sekali bukan situs pornografi dan justru merupakan tempat yang menawarkan sebuah solusi terhadap pembajakan, yang notabenenya memiliki filter tersendiri untuk konten anak-anak, karena hanya bisa diakses oleh orang-orang yang benar-benar memiliki otoritas, serta menawarkan tontonan berkualitas

Jadi, bodo amat bila saya kembali menggunakan waktu saya hanya untuk mengonsumsi materi yang “ilegal”, biarkan saya menikmati hobi saya, mengunduh serial tv berkualitas lainnya di internet secara gratis tanpa harus ada yang membatasi.

Argumen bahwa Tumblr patut diblokir karena memuat konten pornografi terdengar konyol.

Tumblr merupakan situs micro-blogging yang memberikan wadah bagi penggunanya untuk mengunggah dan menciptakan konten sendiri. Secara fungsi, hampir mirip dengan situs media sosial lain seperti Facebook, Twitter, dan Youtube. Sama halnya dengan jasablogging yang sejenis fungsinya seperti Blogspot dan Wordpress.

Semua situs tertulis diatas pun memuat konten dewasa. Dengan akses dan kata kunci yang tepat, kita dapat menemukan berbagai macam konten yang teman-teman di KEMKOMINFO sebut sebagai “pornografi” (silahkan coba sendiri).

Sudah lumrah diketahui bahwa terdapat akun yang mempromosikan prostitusi dan menyebarkan konten dewasa di Twitter dan LINE. Terdapat banyak grup Facebook di mana anggotanya saling berbagi konten dewasa dan narahubung jasa prostitusi. Banyak blog dengan jasa Wordpress dan Blogspot yang menyediakan link unduh film dewasa produksi Jepang dengan durasi lebih dari satu jam.

Bukankah itu juga pornografi? Jika Tumblr diblokir karena alasan terkait, cobalah bersikap adil dan blokir seluruh situs tersebut. Lalu kita lihat sebesar apa amarah dan kelompok netizen yang akan protes.

Tumblr telah menjadi wadah yang setia memberikan tempat bagi para netizen untuk berekspresi dan berkreasi selama bertahun-tahun. Sebelum kawan-kawan di KEMKOMINFO mencari konten “porno” dengan kata kunci yang jelas-jelas akan memaparkan konten terkait. Sudahkah Kemkominfo mencari kata kunci lain yang berkaitan dengan kreasi para netizen?

Padahal, entah kenapa akhir-akhir ini saya sedang tertarik untuk lebih sering menulis di Tumblr daripada sebelumnya, dan memang banyak yang mau saya tulis. Di Tumblr, saya menghabiskan waktu malas saya cukup lama dengan suatu hal yang lebih baik. Di Tumblr, kita dapat menemukan ribuan karya seperti musik yang diciptakan melalui proses rekaman berbulan-bulan, tulisan dan artikel yang berjasa memberikan mereka posisi di media cetak dan online besar, karya visual yang mereka gunakan untuk mendapatkan rupiah dan masih banyak lainnya.

Kami, Netizen, tidak akan puas dengan respons seperti “silahkan menggunakan situs blogging lain”. Banyak fitur Tumblr yang tidak dapat digantikan oleh wadah lain. Jadi, memblokir semua situs itu bukan cara orang yang pintar, tapi cara orang malas. Memblokir itu bukan solusi, tapi polusi terhadap ide. Sebelum Tumblr diblokir, biiarkan, biarkan saja blog saya ditutup dengan konten seperti ini, supaya kalian, teman-teman Kemkominfo, sadar bahwa selamanya kalian hanya akan diingat sebagai pihak yang membantu mematikan distribusi konten kreatif netizen Indonesia.

0 Comments Add a Comment?

Add a comment
You can use markdown for links, quotes, bold, italics and lists. View a guide to Markdown
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply. You will need to verify your email to approve this comment. All comments are subject to moderation.
Close

Subscribe to get sent a digest of new articles by Rizal Gading Baskara

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.