← Back to portfolio

Kara

Senyuman pun saling berbalasan di antara kami. Menjelaskan betapa anehnya seorang pasangan yang paling bahagia di dunia pada waktu itu kembali bertemu semenjak dua tahun yang lalu.

“Hey Kara!!! how are you! Oh my God”, ujar Cia setengah berteriak, langsung berdiri menghampiri gue dengan pelukan.

“Hahaha as usual. But anyway, I miss you like a lot!”

Gue benar-benar kaget sekaligus terharu. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi semenjak dua tahun yang lalu ini diawali dengan pelukan dan teriakan hiperbolis. Layaknya Ryan Gosling dan Emma Stone.

Kita merencanakan pertemuan ini disaat Cia sedang berada di ketinggian 35.000 kaki di atas Samudra Pasifik. Karena pada waktu itu ia transit terlebih dahulu ke Honolulu baru menuju Jakarta. Rasanya amat sangat aneh pertemuan ini terjadi, karena di saat kita sudah sangat ingin bertemu, selalu ada saja alasan untuk membatalkan rencana tersebut. Terlebih karena orang tuanya yang sedang menjalankan dinas di Amerika Serikat selama satu tahun. Jadi tidak ada alasan yang penting untuk ia pulang ke Indonesia.

“Hi, Kara. You’re not going to believe this. But I am going to set my frickin’ foot to Indonesia. So excited to see you!”

“Hah?! Cia, are you drunk?”

Gue tidak mengerti harus membalas apa pada saat itu. Membaca pesan ini di antara senangnya bukan kepalang karena akan bertemu kembali dengan pacar gue, atau takut apabila dia akan memberikan gue sebuah berita pernikahannya dengan bule Amerika kaya raya pendukung Donald Trump dan sesungguhnya pertemuan ini hanyalah untuk memberikan pernyataan putus secara sepihak.

But, thank fuck. Asumsi gue terpatahkan. Pembicaraan pembuka kita menyatakan bukan karena hal itu, tapi lebih ke urusan personal.

***

Sudah tiga tahun lamanya LDR ini kita jalani. Kita pertama kalinya bertemu di sebuah toko waralaba kopi ternama. Hal ini terjadi dikarenakan gue yang pada saat itu menjadi anggota sebuah organisasi kepemudaan sedang melakukan meeting mengenai social project. Entah mengapa, tiba-tiba ada dua orang asing yang notabenenya non-anggota organisasi, ikut bergabung dalam satu meja untuk meeting. Ternyata mereka direkrut oleh salah satu teman gue untuk berkontribusi di bidang marketing.

Salah satunya adalah Cia. Wanita berambut panjang sebahu, wajahnya cerah dan berkulit putih. Hal pertama yang gue sadari adalah Cia memiliki kebiasaan yang menurut gue bukan hal umum bagi perempuan Indonesia, yaitu mengantongi pulpen di saku depan kanan. Hal ini selalu dia lakukan ketika menulis, dan kemudian mengembalikan pulpennya lagi di saku. Membuat gue berasumsi bahwa dia adalah orang yang rajin menulis, atau bahkan itu hanya kamuflasenya menjadi seorang perempuan geeky. Yang padahal pulpen itu sebenarnya hanya untuk self-defense saja, ketika ada seseorang yang melecehkannya.

Bukan karena genit, tapi memang sudah menjadi kebiasaan gue untuk mengobservasi orang yang gue anggap menarik, terlepas dari gender mereka. Entah yang mana yang duluan, dia selalu tersenyum sembari menatap mata gue, membuat kontak mata intens beberapa kali di saat gue sedang mempresentasikan kerjaan pada project ini. Kejadian itu berlanjut ketika gue tidak berbicara di forum sekalipun. Ada kemungkinan hal ini terjadi karena gue memperhatikan dia dengan seksama yang kemudian membuat dia sadar.

Di Indonesia, anda tidak melakukan kontak mata dengan intens kecuali anda bermaksud lain.

Kita berkuliah di tempat yang berbeda di saat itu, imbas dari kebijakan organisasi gue yang mengharuskan anggotanya berasal dari seluruh mahasiswa se-jawa barat. Namun, tiba-tiba Cia memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya di saat semester dua perkuliahan dan pindah ke negeri Paman Sam untuk melanjutkan studinya, tepatnya di Harvard University, untuk memperdalam ilmu yang dia sukai, yaitu Ekonomi. Terpaksa LDR ini pun harus terjadi, karena gue tidak mungkin ikut dengannya.

***

Kita berbincang hangat bagaikan dua orang yang paling bahagia di dunia pada saat itu. Bernostalgia tentang bagaimana kita bertemu di tempat duduk yang sedang kita duduki saat ini, persis seperti 3 tahun yang lalu.

Terlepas dari tempatnya yang strategis, kedai kopi waralaba ini terlintas di pikiran gue di saat ia bertanya tempat yang pas untuk kita bertemu. Tempat yang memiliki segudang cerita.

Gue masih ingat, betapa canggungnya pada waktu itu mengobrol satu sama lain di meeting yang ketiga dengan kedai kopi yang berbeda. Meeting yang ketiga ini benar-benar gue manfaatkan untuk mendekati Cia dengan gaya konservatis, karena sesungguhnya gue sangat membenci metode pendekatan kaum millenial, yaitu menyapa via online.

Setengah gelas kopi gue pun sudah diminum, waktu pun menunjukkan sudah lebih dari satu jam kita berbincang dengan hangat. Gue mencoba menggali rasa penasaran gue tentang kenapa anomali – datang ke Indonesia tanpa alasan yang jelas – yang dilakukan oleh Cia kali ini bisa terjadi.

“Cia, kamu kenapa sih tiba-tiba balik ke Indo? Totally strange for me. But you know, I don’t mean to be….. Emm I mean like… it’s just strange for me. Kaya ada sesuatu yang berbeda. Kamu seharusnya kan masih kuliah, ya kan?”

Respon Cia kali ini membuat hati gue berdebar-debar. Tanda dia gelisah dengan mengotak-atik jam tangannya yang jelas tidak ada apa-apa adalah sebuah kebiasaan dia yang mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang tidak baik. Memang segitunya gue mengetahui kebiasaannya.

Cia menatap gue dengan mata serius.

“So, basically bisa dibilang aku lagi get lost ke Indo”

“America is such a bad memories for me. Semua yang buruk-buruk terjadi dalam diriku itu pasti di saat berada di Amerika. I am broke now to be honest.”

“Hah? Maksud kamu?”

“Jadi gini…”

Cia terdiam sejenak, dengan tatapan bingung dia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan pada waktu itu.

“Kamu tau papa aku gimana kan? The diplomat stuff is killing him. Mama papa bentar lagi cerai.”

Cerita mengenai ayahnya adalah suatu tema yang tidak pernah absen sedikitpun di saat kita bertemu, sehingga tidak heran apabila mendengar kabar itu darinya. Suatu preseden yang cukup memberikan gue insight baru mengenai bagaimana caranya menjadi pria yang benar di hadapan wanita dan juga menjelaskan bahwa melirik sedikit pun ke wanita lain selain pacar gue adalah sebuah kebodohan.

“And also, this one might surprise you. Kuliah aku, to be honest, berantakan. Sering gak masuk kuliah. Mata kuliahku banyak yang gak lulus. I am such a pathetic woman.”

“Amerika adalah tempat yang menyedihkan buat aku sekarang dan mungkin seterusnya. Rasanya menyesal, bener-bener menyesal meninggalkan kamu dan dinginnya kota Bandung, tempatku kuliah dulu.”

Gue terdiam sambil menatap mata Cia yang sudah berkaca-kaca. Tercengang dengan apa yang telah diceritakan oleh Cia terutama perihal kuliahnya, impiannya pada waktu itu. Kritisnya pernikahan orang tua Cia adalah bukan suatu peristiwa yang aneh, kita membicarakan probabilitas ini sudah cukup lama.

“I am so sorry to say this. Bener-bener sedih. Yang hanya aku pikirkan hanya Indonesia dan kamu. You are the only hope that I think I could stand up my sanity.”

Gue mencoba mengalihkan pembicaraan kepada masalah kuliahnya, mempertanyakan masalah kedua orangtuanya hanya akan membuat matanya banjir. Gue tidak mau itu terjadi.

“So… kenapa kuliahmu bisa kaya gitu? Aku masih gak ngerti.”

“Masih inget gak kenapa motivasi aku pindah dari Bandung? Orang-orangnya. Mereka seperti orang-orang yang perlu disuapi oleh motivasi setiap harinya. Orang-orang yang perlu disadari kalau ngelamar kerja tidak sesederhana itu. Orang-orang itu tidak bisa sesantai seperti itu di saat aku memiliki ambisi yang besar di depan mata. Definitely negative energy around me. What an Irony. Aku salah tempat, dan aku pindah ke US.”

Gue terdiam sambil menyeruput kopi, gue akan membiarkan Cia untuk meluapkan dulu isi hatinya seperti biasa.

“But, Unfortunately Americans just makes me sick. Maksudnya bukan orang Amerika secara general ya, tapi particular di jurusanku, gatau di tempat lain gimana. 75% adalah Americans dan sisanya foreigners termasuk aku. They are anti social!!! That’s what makes me sick.”

Gue masih tak bersuara.

“Aku dapet satu teori yang ku ambil disini: The hardest subjects and programs you have, the more anti-social you are. I know that this kind of subjects are cosuming my life. Tapi, ya kita kan mahasiswa. We can do more than just studying and studying.”

Gue rasa ini saatnya gue angkat bicara. Gue bilang ke Cia kalau Ia tak bisa serta merta melabeli semua orang apatis hanya karena tidak punya kesadaran akan lingkungan mereka. Belum tentu persoalan tersebut penting bagi mereka, karena untuk sebagian orang, menerima segala sesuatu apa adanya merupakan pilihan terbaik.

Fase-fase pembicaraan intens sudah dimulai, tidak ada pembicaraan nostalgia lagi dan tidak ada pembicaraan yang lucu-lucu hiperbolis macam Ryan Gosling dan Emma Stone. Seketika atmosfer gue dan Cia menjadi serius.

“Jadi maksudnya kesibukan mereka kuliah itu membuat mereka apatis dan anti sosial gitu?”

“Iya, sejenis itulah pokoknya. I just hate them so fucking much…”

Gue langsung memotongnya.

“Hey, watch your language”

“…Ummm sorry. Aku kesel banget soalnya kalau inget itu. Itulah yang bikin aku demotivated, males kuliah. Males ngeliatin muka-muka nerdy yang hanya mengurusi dirinya sendiri tapi gak mengerti bahwa pekerjaan mereka nanti gak sesederhana itu. Sistem pendidikannya yang cenderung membuat mahasiswanya terlihat seperti siswa. Apathetic and stupid.”

“Aku capek melihat anomali kapasitas organisasi di jurusan yang menampung banyak orang but turns out, yang daftar malah di bawah kapasitas. And I’m just really sick of it.”

“And also, Kayanya kelulusanku di postpone deh, soalnya banyak mata kuliah yang gak lulus.”

Gue bingung mau menjawab apa. Selain berbicara secara bilingual, itulah kebiasaan Cia ketika emosi, ratusan kalimat pun keluar dari mulutnya, sehingga lawan bicaranya pun senggan untuk menyanggah. Gue langsung cabut ke counter untuk memesan kopi kedua sambil memikirkan apa yang harus gue katakan ke Cia.

“Wow. That was.. Intense. Bentar ya aku mau mesen kopi lagi.”

“Go ahead.”

Gue segera menuju ke counter dan memesan segelas cappuccino hangat.

Cia memang tidak pernah berubah, mengkritisi segala hal, dimanapun dan kapanpun. Menurutnya salah satu kesalahan terbesar mahasiswa adalah terfokus pada buku teks, yaitu memindahkan pengetahuan dari buku teks ke kertas ujian. Jadi pintar itu adalah pintar kertas, dan sarjananya sangat mungkin menjadi sarjana kertas.

Ini memang bagian yang dari dulu selalu bikin gue geli. Kalau kata rektor gue sekarang, mahasiswa ya ‘maha’. Seharusnya outputnya lebih dari sekadar sarjana kertas. Begitupun yang sering gue lihat di kampus gue sekarang, bahwa salah satu kesalahan terbesar bangsa ini adalah menerima segala sesuatu dengan mentah-mentah tanpa memberi ruang untuk berpikir kritis.

Rasanya ingin mengaduk-aduk pikiran mereka-mereka yang timeline hidupnya pada saat ini adalah kuliah-belajar-main dan berulang alias kupu-kupu. Apabila yang mereka tempuh adalah sekolah kedinasan masih gue wajari, karena mereka memang kaki tangan pemerintah yang tidak perlu memperindah CV-nya sudah pasti dapat pekerjaan di pemerintahan yang gajinya tidak kalah dengan lulusan universitas.

Stereotipe mahasiswa luar negeri, kedinasan dan mahasiswa reguler kampus-kampus di Indonesia jelas berbeda, baik itu lingkungan dan latar belakang. Tapi setidaknya perbandingan ini dapat disandingkan meskipun kehidupan universitas penuh dengan cacat dan ketidaksempurnaan.

Gue memikirkan bahwa ada suatu hal yang harus dilakukan oleh Cia, yaitu membentuk perkumpulan. Gue tahu bahwa keluh kesahnya ini harus diimplementasikan pada kanvas yang lebih dari sekadar platform media sosial dan bincang-bincang di kedai kopi. Adanya keharusan bersuara agar teman-temannya memiliki kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya. Agar mereka-mereka yang dikatakan bodoh oleh Cia ini sadar bahwa mereka adalah yang membuka lapangan kerja, dan mereka yang dapat membuat suatu hal yang berpengaruh terhadap sekitarnya. Karena sekadar sarjana kertas tidak bisa melakukan itu.

Bukan hanya peduli dengan kurva-kurva ekonomi bias saja dan juga buku-buku tebal, tapi bagaimana caranya agar kepedulian mereka diangkat dan menegaskan dunia kerja tidak sesederhana mencari uang makan saja. Karena sesungguhnya mahasiswa itu ada bukan untuk jadi budak pemerintah atau pegawai biasa.

Jangan salahkan apabila keluh kesah Cia ini tak kunjung terealisasi, tak heran apabila pengangguran terus terjadi, dan manusia-manusia yang diprovokasi sedikit langsung ikut berdemo, tanpa mengkritisi masalah itu sendiri.

Gue kembali ke tempat duduk bersama Cia. Ia seperti sedang berusaha untuk membuka gerbong-gerbong pikiran dalam benaknya.

“Cia, menurut aku nih ya. Ini adalah permasalahan klasik mahasiswa, apatis. Kamu tidak akan bisa survive kalau pikiranmu selalu berbeda sama mereka. Kamu bakal messed-up kalau kaya gini terus, kalau keluh-kesah ini hanya dipendam di dirimu saja. You have to do something or.. just move on.”

“Terus, maksudmu gimana?”

“Gini aja, aku tau apa yang kamu pikirkan ini benar. Tapi kamu harus ngajak orang lain juga dari dalam untuk mengetahui permasalahan mahasiswa di jurusanmu. Coba deh mulai ngobrol. Siapa tahu dengan kejadian kaya gini, sekarang kesadaran orang udah mulai muncul.”

Cia terlihat sedang berpikir. Gue kembali menekankan bahwa perubahan tidak akan pernah bisa dilakukan oleh satu orang saja. Semua gerakan sosial politik yang sukses dalam sejarah dunia terjadi ketika gagasan satu orang ditularkan pada banyak orang. Gagasan revolusi bisa saja muncul di kedai kopi, tapi apa yang membuatnya berjalan adalah aksi nyata dan aksi massa.

“What if.. Aku udah nyoba segala cara termasuk yang kamu omongin tapi hasilnya tetap nihil. Itulah kenapa aku bilang ke kamu this place really makes me sick in the first place, because I have done everything to make it right.”

Mendengarkan keluh kesah Cia selalu menarik buat gue, karena dia orang yang kritis dan peka terhadap lingkungannya, selalu ada celah buat dia untuk menemukan kesalahan. Namun di sisi lain, gue berpikiran apa yang dilakukan Cia adalah salah. Dia selalu mengkritisi dan selalu menganggap salah kepada hal yang tidak sepemikiran atau tidak sesuai ekspetasinya. Padahal realita penuh dengan cacat dan ketidaksempurnaan.

“Yakin? Udah nyoba ngajak kolaborasi sama organisasi di jurusan kamu belum?”

“Udah sih, mereka udah bikin kampanye-kampanye basi gitu, tetep aja.”

Sifat kritis Cia memang seru dan relevan untuk didengar, mungkin dia bisa membuat buku berjudul “Against Everything: Mahasiswa” dan Against Everything versi lainnya. Begitupun organisasi kepemudaan yang waktu itu masih gue jalankan. Dia mengkritisi organisasi berembel-embel kepemudaan ini tidak ada bedanya dengan organisasi mahasiswa pada umumnya, berjalan hanya sekadar formalitas. Tidak ada passion dan jiwa untuk membangun bangsa, hanya untuk sekadar capek menjalankan program kerja terdahulu sampai selesai. Semacam pemerintahan Indonesia terdahulu, medioker.

“Gimana kalau kamu pilih opsi kedua?”

“Move on maksudmu? Menerima kenyataan dan menganggap masalah ini tidak ada? It’s not just makes me sick, it is even..”

Gue langsung memotong pembicaraannya.

“Eh, bukan gitu maksudku. Menurutku kamu harus jadi air. Mencoba beradaptasi dengan lingkunganmu, gak bisa kamu kontra terus hanya karena ekspetasimu terhadap kampus dan orang-orang di sana berbeda jauh.”

“Tiap lingkungan kan beda-beda, ada tantangannya masing-masing. Kamu harus menyesuaikan dong, kalau kamu berpikirannya gitu terus. Pikiran sama kenyataan bakal gak sejalan, kamu bakal gitu-gitu terus. Stressful.”

Muka Cia terlihat sedang menimbang-nimbang tentang apa yang sedang gue bicarakan. Gue mencoba melanjutkan.

“Masa kalau kamu ditempatkan di hutan belantara, kamu sempet-sempetnya berpikiran buat hidup enak? Ya gak bisa dong. That’s why kamu harus jadi air, mau dikasih wadah seaneh apapun, tetap aja bisa menyesuaikan diri dengan wadah itu, layaknya air.”

“Maksudmu menerima kalau lingkunganku tetap seperti ini? Dan mencoba untuk tidak peduli? Tetap, aku gak bisa. Aku gak bisa menjadi diam dan mencoba berbaur dengan mereka-mereka, they extremely will make me sick. Aku harus bertindak, entah sudah percobaan ke berapa untuk menyadarkan mereka. Well, at least i try.”

Gue menahan diri untuk menjawab. Mencoba menyegarkan pikiran dengan menghisap sebatang rokok Marlboro sambil melihat ramainya jalanan ibukota Jakarta.

Cia pun terasa sudah lelah dan muak akan situasi yang terjadi. Ia bercerita bahwa jangankan berkuliah, hanya untuk bergaul pun ogah. Ia bahkan menyebut manusia seperti teman-teman jurusannya adalah sosiopat. Egois. Hanya peduli ketika ada suatu kepentingan pribadi.

“Orang-orang bodoh itu.. ya cuma muncul kalau ada butuhnya. Nongol di grup Yahoo pun cuman kalau ada lowongan part-time atau jadwal magang. Kalau hanya ingin sekadar bercengkrama? Mereka bungkam di sarang ketidakpeduliannya masing-masing. Haha”, ujar Cia dengan nada dan ketawa sarkastik andalannya.

“Kayanya mereka salah jurusan deh, seharusnya kuliah di jurusan komunikasi atau psikologi. Biar setidaknya mereka gak bodoh-bodoh amat untuk mengerti caranya berinteraksi dengan sesama.”, Cia pun menambahkan.

Menurut gue kesalahan yang terjadi terhadap Cia, adalah kesalahan yang terjadi kepada banyak orang. Terutama bagi mereka yang merasa dirinya tidak cocok di pekerjaan sehingga stress atau mereka yang mengaku salah jurusan ketika kuliah, sehingga drop out. Secara psikis, ketika kita berbuat baik, tubuh pun akan merespon baik. Begitupun sebaliknya. Jadi jangan heran, ketika Cia melawan terhadap lingkungan kampus dan orang-orangnya yang dianggap apatis itu, secara sosial dan kehidupan perkuliahannya pun akan kacau. Pikirannya harus senada dengan pikiran dan kenyataan di kampus itu. Jika tidak, tubuh dan pikirannya akan selalu melawan terhadap kampus tempat dia menimba ilmu, layaknya oposisi yang selalu melawan.

***

Seminggu kemudian kita kembali bertemu. Obrolan Cia dan gue sore itu jauh lebih akrab dari yang sebelumnya. The atmosphere was just too intense back then.

Pembicaraan nostalgia kembali terjadi, mengingatkan gue bagaimana pertama kalinya kita bertemu di kedai kopi. Saling berbalas senyum dan memasang muka yang seakan-akan mau menyapa, tapi ragu. Perbincangan pertama terjadi di saat Cia dan temannya izin forum untuk shalat. Meskipun gue mengidolakan Richard Dawkins dan nilai-nilai kampanye kontroversialnya, gue memasang badan paling depan untuk ikut izin.

Entah kebetulan atau bukan, perjalanan dari kedai kopi menuju musholla cukup jauh, lantas gue memanfaatkan momen tersebut untuk mengobrol dengannya.

Yang terjadi adalah pembicaraannya terkesan memaksakan, gue sangat terlihat mencari-cari bahan pembicaraan dengannya. Tidak natural dan sangat membosankan. Baru saat kami tak sengaja tiba-tiba membicarakan TV series favoritnya, Game of Thrones, seni pembicaraan kembali terjadi dan mengalir. Dan yang berikutnya terjadi jauh lebih menyenangkan.

Ternyata pertemuan ini sebenarnya bertujuan untuk mengatakan bahwa ia ingin gue bermalam di tempatnya untuk terakhir kalinya. Apa ini tidak akan membuat suasana jadi awkward nanti? Apa yang akan kami bicarakan sebelum kami memulainya? Apa yang akan ia katakan sesudahnya?

Cia memutuskan untuk pulang ke Boston lebih awal. Entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga memutuskan hal tersebut. Ia memang unpredictable.

Rasa penasaran gue masih menempel kepadanya. Apakah Cia kembali ke kampusnya sebagai oposisi yang menentang sikap apatis mahasiswa jurusannya dan tetap bersikukuh mencoba untuk memperbaikinya? Atau justru ia akan menjadi air mengikuti apa yang gue sarankan? Atau justru dia pindah kuliah kembali ke Indonesia, ke kampusnya dulu?

Gue menegak habis kopi pertama gue dan kemudian berkata,

“Jadi, pertanyaannya adalah.. di sana kamu tetap jadi oposisi atau jadi air?”

Cia hanya tersenyum dan menatap mata gue.

0 Comments Add a Comment?

Add a comment
You can use markdown for links, quotes, bold, italics and lists. View a guide to Markdown
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply. You will need to verify your email to approve this comment. All comments are subject to moderation.
Close

Subscribe to get sent a digest of new articles by Rizal Gading Baskara

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.